Anak pintar itu bahaya


 

Anak Pintar itu bahaya !


Salah satu kelebihan anak yang sering dibanggakan oleh para orangtua adalah memiliki anak yang pintar secara nilai akademik. Dan sampai hari ini nilai atau pencapaian akademik menjadi sesuatu yang dikejar.

Padahal seseorang yang pintar itu ada banyak kemungkinan (sebab) : pintar karena anugerah dari Tuhan, karena dukungan keluarga, atau karena dia memiliki karakter pendiam.

Perilaku pendiam sering ditemukan bersamaan dengan perilaku suka berfikir, tidak berani menyampaikan argumen, tidak enakan, tidak ingin merepotkan, agak kesulitan bersosialisasi, atau tertutup. Sehingga aktivitas yang bisa dia lakukan adalah fokus pada tugas yang diberikan guru. 

Sebenarnya sikap tersebut bisa menjadi sebuah bingkai yang membawa kepada kebaikan dan kesuksesan, jika seseorang tersebut mendapatkan bimbingan dan pengawasan yang tepat.

Bimbingan dan pengawasan yang dimaksud disini adalah pada perkembangan kepribadian anak, seperti : kejujuran, terbuka, menghargai, mampu mengekspresikan perasaan dengan baik. Jadi tolak ukur pencapaian keberhasilan anak itu dilihat dari sejauh mana dia telah memiliki nilai-nilai tersebut.

Namun, fenomena yang ada di tengah masyarakat adalah, lemahnya kemampuan pengamatan dan kepekaaan orangtua terhadap perilaku anaknya.

Diantara faktornya adalah tingkat pendidikan orangtua yang rendah, minimnya referensi dalam hal pengasuhan anak, dan atau keadaan ekonomi yang lemah.  Sehingga tidak mampu membaca pola perilaku anak, apakah baik-baik saja, atau mengalami perubahan, apa penyebab terjadinya perubahan. Atau tidak ada waktu untuk mengamati perkembangan perilaku anak karena sibuk mencari penghasilan untuk menafkahi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

 Contoh kasus yang terjadi menurut pengamatan penulis adalah :

1. Diperkosa

Karena sikap lugu dan kepolosannya, seorang gadis pintar nan jelita termakan ajakan seorang pemuda di desanya untuk belajar memainkan alat musik gitar, yang ternyata merupakan rangkaian jebakan baginya.

Terpuruk karena kasus pemerkosaannya, ditambah pula dengan rasa takut atas ancaman pembunuhan dari pelaku (jika dia mengungkapan siapa pelakunya kepada orangtuannya), yang berujung depresi.

2. Depresi

Seorang pemuda telah mencapai nilai yang tinggi dan dielu-elukan. Namun sayangnya pemuda ini karena larut dalam mengeksplorasi ilmu yang tidak sesuai dengan kemampuan atau melampaui akalnya, akhirnya dia mengalami stress atas pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu ia cari jawabannya, dan atau karena makin beraneka ragamnya perbedaan pendapat yang saling bertolak belakang, yang membuat pikirannya terganggu.

3. Pergaulan bebas

Mudah terbawa lingkungan, karena tidak punya prinsip. Merasa kurang bergaul, namun ketika ingin bergaul ternyata tidak mampu memfilter pertemanan.

 

Tiga kasus ini rasanya cukup menjadi pembelajaran bagi para orangtua dan guru, bahwa sesungguhnya pencapaian terbaik itu tidak selamanya diukur dari angka. Ada unsur penting yang seringkali diabaikan para orangtua dan guru yaitu pembangunan karakter. 

Maka hendaknya orientasi pendidikan anak adalah pembangunan karakter, bukan pintar (nilai akademik) semata. Diantara karakter yang harus dibangun adalah memiliki prinsip hidup, tegas dalan bersikap, memiliki alasan dalam bertindak, mampu membedakan yang hak dan bathil.

Mengenali kesehatan mental anak itu sangat penting, agar kita dapat memastikan anak tumbuh sesuai fitrahnya dan senantiasa memberikan arahan dalam bergaul agar terhindar dari kasus-kasus buruk yang tidak diharapkan.

Karena semestinya goals tertinggi yang kita harapkan dari anak adalah dia tumbuh menjadi pribadi yang sehat badannya, sehat akalnya dan sehat jiwanya.


Lalu muncul pertanyaan, bagaimana bentuk arahan yang tepat ?

yuk kita diskusi dikolom komentar


*tulisan ini salah satu tugas kuliah, dipost juga di akun kompasiana pada Januari 2021.

Komentar

Postingan Populer