COVID 19






Covid.
Covid.
Covid 19.
Covid absen nomer 19 !
Pak Robert mulai mengangkat kacamata rantainya dan mengangkat kepala disertai tatapan heran dan geram.
"Covid, kau absen no.19 kan? Kenapa tak jawab? Bapak panggil-panggil kau berkali-kali. Macam mana mau jadi tentara kalau suaramu rendah seperti itu covid?"

Covid yang terlahir dari keluarga kaya raya ini ternyata seorang anak pemalu, atau mungkin lebih tepatnya anak yang sangat minder.

Suaranya sangat rendah, tatapan wajahnya selalu ke bawah, yang tersebab itu ia sering kali diejek teman-teman sekelas.

"Covid, Covid 19, covid nomer absen 19, uang mu jatuh kah?.. Haha." Semua ramai menertawakan. Dan ia semakin menundukkan kepala lalu berjalan pelan menuju kelas 5A yang terletak di ujung gedung.

Sepanjang hari selama di sekolah, ia menghabiskan waktunya di atas kursinya, diam tanpa kata dan selalu menggoyangkan pena.

"Tuhan, kenapa mereka selalu menertawakan ku?
Kenapa mereka selalu mengejekku? Apa yang salah dari ku? Aku bahkan tak pernah menyakiti teman sebelah ku, tapi dia pun ikut puas menertawakan ku. Aku tak pernah berniat untuk menjaga jarak atau menjauh dari mereka. Bahkan aku ingin mengenal mereka, tapi aku bingung untuk memulainya, sedang mereka tak pernah memulai kepada ku.
Aku takut, aku terlalu takut. Iya aku terlalu takut respon buruk mereka. Tuhan beri aku petunjuk, aku titipkan mereka kepada Mu, aku mohon bukakan hati mereka untuk menerimaku." Sambil mengucap amin dan mengusap wajahnya.

Inilah doa yang selalu dipanjatkan Covid disepertiga malam.

Sampai disuatu pagi, upacara dadakan digelar, semua murid SD Coronasius diperintahkan untuk merapihkan penampilan dan bergegas menuju lapangan.

Semua murid berbaris rapih dan siap mendengar arahan dari Bapak Kepala Sekolah.

"Selamat Pagi anak-anak ku yang Bapak banggakan. Semoga Tuhan selalu memberkati kalian. Pagi ini bapak harus sampaikan bahwa kita mendapat tantangan dari Bapak Ketua Yayasan Coronasius  untuk menunjukkan karya terbaiknya dalam sebuah lukisan. Dan waktu yang diberikan dimulai setelah upacara dibubarkan sampai pukul 12.00 WIB. Sekian yang harus bapak sampaikan."

"Gilaaa, gilaa ni bapak kepsek."
"Wah yang bener aja masa sampai jam 12.00."
"Wah ngga rasional banget ni bapak."

Semua murid mulai menyinyir, menggerutu sambil jalan menuju kelas masing-masing.

Seperti biasa, Covid dengan pembawaan yang tenang malu nya berjalan menuju kelas diam tanpa kata.

Semua bergegas menuju kelas dan mulai melukis dengan terpaksa sambil menggerutu. Kecuali covid.

Setelah sampai pukul 12.00 WIB, bel pengumpulan lukisan berbunyi.

" Aaaaaaaaaaaaa" teriak seluruh murid SD Coronasius. Bahkan gedung hampir gucang karena kerasnya gema suara mereka.

Covid mulai melihat ke kanan dan ke kiri, berjalan pelan menuju Pak Robert dan menyerahkan lukisan dengan malu-malu dan takut.

 "Covid, apa-apaan ini.... (degdeg)








 ... lukisan kamu baguss kali, bagaiamana bisa kau melukis sebagus ini diwaktu sesingkat ini. Kau benar benar hebat covid. Covid 19 kesayangan bapak sekarang." ( sambil tersenyum ).

Covid membalas senyum.😊

Semua murid kelas 5A maju untuk melihat lukisan Covid kemudia  mereka serentak berkata, "Oh My God, you are so crazy." "We're proud of you."

Dan sejak itu hari-hari bahagia Covid dimulai.




Atikah Mahdiah
Jakarta, 6 April 2020

Menerima Tugas dari
Kajian Kepenulisan bersama
Muhammad Kamal Ihsan






Dan Alhamdulillah tanggal 9 diumumkan bahwa tulisan saya ini mendapat apresiasi dari Ka Hangka. Saya dan dua orang lainnya. Alhamdulillah dapat 2 buku karya beliau.

Komentar

Postingan Populer