UMMI DAN KUE GANEPO

KUE GANEPO

Kue itu sangat mempesona, memikat mata dan mengalihkan pikiranku.
Seolah mengembalikanku pada sebuah peristiwa di pagi buta itu. Aku dan kakaku yang di taqdirkan oleh Allah untuk mengenyam pendidikan di salah satu pondok pesasntren yang terbilang murah jika dibandingkan dengan pondok pesantren lain, namun mahal bagi perhitungan keluarga kami.
Terus ngapain sekolah disitu?.
Entahlah, berjalan begitu saja, sesuai arahan mereka. Setelah dinyatakan lulus maka kami pun berangkat kesana.
Dulu aku tidak tahu menahu tentang mahalnya dan proses pembayaran pembiyaan sekolah. Pokoknya yang aku tahu, pondok itu terlihat megah meski sederhana, jauh namun asri. Dan itu adalah pondok tempat paman dan bibi ku bersekolah dulu.
-------------
Hari demi hari aku lalui.
Adaptasi pasti, dan itu proses yang berat buat aku yang termasuk anak pendiam. Tapi syukurnya disana sudah ada kakaku yang sudah lebih dulu belajar dsna, jadi aku ngga lepas dari arahan dan naungannya. Mulai dari tempat nanya pe-er sampe tempat nangis ngambek. Cengeng emang.
-------------
Singkat cerita, masa ujian datang. Semua santri harus ikut upacara gabungan sebelum ujian. Setelah itu semua masuk ke ruang ujian masing-masing, sesuai yang tertera di kartu ujian.
Tapi karena ini pondok pesantren, dimana jarak ruang kelas dengan asrama deket banget, jadi kita udah survei lebih dulu dimana kami akan ujian. So, tanpa kartu ujian pun kami semua tau dimana ruangnya.
Tapi……
 aku belum pegang kartu ujian, dikelas ini hanya aku yang belum pegang kartu ujian. Aku tau konsekuensinya kok. Harus keluar ruangan dan pergi menuju kantor keuangan.
Ya sebagaimana yang sudah diduga, aku diminta untuk keluar dulu. Okey aku tahu. Dan aku keluar.
Kaki ini melangkah agak berat dan terasa lemas.
Ternyata bukan sendirian kok, ada kakak ku haha, dan yang lain tentunya. Ya dari 500 santri putri, sekitar 30an santri berdiri di depan kantor keuangan.
Tahu ngga ngapain?.
Jadi kita diminta buat menghubungi orangtua masing-masing dan menanyakan, mau lunasin tunggakan kapan? Minimal bayarlah berapa gitu, sejuta dua juta kek. Yang penting sebelum buat perjanjian akan membayar dan nominal tunggakannya berkurang.

Sedih?
Iyalah, nyesek aja sih. Rada sembab dan mulai ngembang sih.
Nangis? Ngga, malu lah. Kan rame bertiga puluh haha.

----------------
Waktu berlalu sampai menunujkan pukul 9 kemudian 10, kartu ujian dapet dan  dan waktu ujian habis.

Teeettt.

Bel  tanda ujian hari pertama telah usai.
Mari kembali ke asrama dan masuk kamar.
Okey fix aku akan belaja buat ujian hari kedua.

Malu ngga pas masuk kamar?

 Ya malu lah, tapi semua juga ngga mau menunjukan sikap belas kasih, berusaha menjaga perasaan dan anggap tiadak ada apa apa .
Ya Allah , malu punya tunggakan.
Tapi ya mau gimana, pasti orangtua juga udah berusaha , dan aku bisa apa? Kalau bukan sunggugh-sungguh belajar dan lupakan kejadian itu.
Larut dakam kesedihan ngga akan bisa mengubah keadaan. (red : jumlah tunggakan).
Doa ajalah biar bisa segera lunas, belajar ajalah biar dapet nilai bagus, syukur-syukur bisa masuk nominasi juara umum terus dapet beasisswa.

Singkat ceita upacara perpulangan dan libur tiba.
Semua pulang dg rapor dan hadiah bagi yg dapet hehe.

Tetiba dirumah, situasi masih seperti biasa. Setelah malam datang, aku melihat umi mulai mengadon kelapa parut dengan 3 warna makanan. Hijau, kuning dan merah muda.
Diadon di tuang dan dikukus.
Setelah pagi datang, seblum adzan subuh berkumandang. Aku dan kakaku dibangunkan, katanya kan kami mau ikutan ngepack kue.
Tapi suliit buat kita bangun. Elaah kan liburan, bangun siang gaapapa kali.
Tapiiii, bentar deh…
Pagi buta gini, umi dengan lihat memotong kue dengan benang . membungkus dengan plastic dan menaburkan serutan kelapa lagi dan mensolaip.

Disamping umi ada abi yang mulai merapihkan ke wadah dan mulai menghitung. Setelah penuh, abi langsung meluncur dengan sepeda Honda tuanya. Menuju warung warung untuk menitipkan boxkue ini.

Aku dan kakak ku masih menonton sambil merapihkan plastik2 penutup kue.
Kami saling memandang, hamper memendung air mata. Ah tahan. Jangan mengalir please.
********

Selelah inikah mereka tiap hari?
Mengajar kemudian ke pasar untuk belanja bahan, menadon , istirahat lalu mengepack dan mengirim box. Dan begitu seterusnya.
Selelah inikah mereka tiap hari?
Dan kami baru tahu kue ini dibuat setiap hari setelah kami pulang dari pondok.
Kami baru tahu ini ini adlah kue ganepo. Kue kelapa 3 warna. Kue penuh keringat dan perjuangan. Tiap bungkusnya disertai doa dan harap agar anaknya baik baik saja di pondok nun jauh disana.

رب اغفرلي ولوالدي و ارحمهما كما ربياني صغيرا
أللهم إني أعوذبك من الهمّ والحزن و أعوذبك من العجز و الكسل و أعوذبك من  الجبن و البخل و أعوذبك من غلبة الدين و قهر الرجالز

Komentar

Postingan Populer