Hukum Shalat Dalam Kendaraan

 





SHALAT DALAM KENDARAAN

Penyusun & Penerjemah : Atikah Mahdiah

 

 

Rumusan Masalah

*      Bagaimana Shalat dalam kendaraan menurut Imam Mazhab?

*      Apa pendapat pemakalah tentang Shalat dalam kendaraan?

 

 

 

A.          Hukum Shalat Dalam Kendaraan Menurut Imam Mazhab

            1.      Hukum Shalat Wajib Dalam Kendaraan

 

حكمُ الصلاة في السيارةِ

لا تجوزُ الصلاةُ المكتوبة على الدّابةِ ومثله في السيارةِ إلّا لِعُذر.

Ø  فعن جابرِ بنِ عبد الله –رضي الله عنه-: (أنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ يُصَلِّي علَى رَاحِلَتِهِ نَحْوَ المَشْرِقِ، فَإِذَا أرَادَ أنْ يُصَلِّيَ المَكْتُوبَةَ نَزَلَ، فَاسْتَقْبَلَ القِبْلَةَ)

 ونقلَ ابنُ البطَّال الإجماعَ على ذلك؛ لأنَّ من شُروطِ صلاة الفرض استقبالَ القبلة، والاستقرار في جميعها، فأمّا الراكبُ فيكون مُخلّ بهذه الشروط فلا يجوز له الصلاة عندئذٍ.

 فيُشترط في صلاةِ الفريضةِ استقبالُ القبلة، فلا يجوزُ الصلاةَ إلى غيرِ جهتِها إلّا في حالِ الخوفِ الشديدِ، فهي بذلك لا تصحُّ من الماشي أو الراكب؛ لاختلال شرطِ القيام في الصلاةِ حينئذٍ، وشرط استقبال القبلةِ كذلك.

Terjemah :

Tidak boleh menunaikan shalat wajib diatas tunggangan atau semacamnya ( dalam kendaraan ) kecuali ada ‘udzur.

Ø Dari Jabir bin Abdillah r.a bahwa Rasulullah SAW pernah menunaikan shalat ketika perjalanan menuju arah Timur, maka ketika hendak shalat wajib maka Rasulullah turun, dan menghadap kiblat.

Dan dinukil dari Ibnu Al-Bathol bahwa Imam Mazhab sepakat atas hal tersebut, karena salah satu syarat sah shalat wajib adalah mengahadap kiblat dan tetap dalam suatu tempat. Adapun orang yang berkendara  tentunya akan lepas dari syarat-syarat ini. Maka tidak boleh shalat untuknya pada waktu tersebut.

Syarat shalat wajib adalah mengahdap kiblat, maka tidak boleh shalat menghadap selainnya, kecuali dalam keadaan takut, tapi yang demikian juga tidak boleh bagi yang berjalan kaki atau berkendara, karena berkaitan dengan syarat lain yaitu berdiri saat shalat.

 

 وقد وضّحَ الفقهاءُ الأعذار التي تُجيز الصلاة على الدّابةِ أو السيارةِ، ففي حالةِ الخوفِ الشديد؛ كالخوفِ على النفسِ أو المالِ من عدوٍّ أو سَبع، أو خوف الانقطاع عن الصحبةِ، أو التأذّي بالمطرِ، فيجوز أن تُصلّى الصلاة في هذهِ الحالات الصلاة المفروضة في السيارةِ أو على الدّابةِ، وتكون بالإيماءِ فقط من غيرِ رُكوعٍ أو سُجودٍ.

 وجاءَ عن ابن قُدامة أنَّه إذا اشتدَّ الخوف فيحاول المصلّي استقبالَ القبلة إن أمكنهُ ذلك، وإن لم يُمكنه فإلى غيرها، وإن لم يستطع الركوع والسجود فيومِئ بالسُجودِ أكثر من الرُكوعِ، ويسقط عنه القيام والقُعود إن عجزَ عنهما، لِقوله –تعالى-: (فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَانًا)،

Terjemah :

Dan ulama fiqih telah menjelaskan apa saja ‘udzur yang diperbolehkan diatas tunggangan atau dalam kendaraan. Yaitu jika dalam keadaan sangat menakutkan, seperti takut akan dirinya atau harta dari ancaman musuh atau binatang buas atau takut terpisah dari rombongan atau terkena bencana hujan (semacamnya), maka shalat wajib dalam keadaan itu diperbolehkan di dalam kendaraan, dilakukan dengan isyarat mata saja, tanpa ruku dan sujud.

Dari Ibn Qudamah bahwasannya apabila sesorang dalam keadaan mencekam, hendaknya dia berusaha shalat menghadap kiblat jika memungkinkan, jika tidak memungkinkan menghadap ke yang lain, dan jika tidak mampu untuk ruku’ dan sujud maka isyarat mata sujud lebih banyak dari pada ruku’, maka gugurlah syarat ‘berdiri’ bagi mereka yang tidak mampu itu. Sebagaimana firman Allah ta’ala QS. Al-Baqoroh ayat 239.

 

 وقد ذهبَ الجمهورُ إلى صِحّة الصلاة المفروضة على الراحلةِ. إذا تمكّن المصلّي من استقبالِ القبلة، والاستقرار في جميعها، والإتيان بشروطها وأركانها. وقيّد الشافعية هذا الجواز بأن تكون الراحلة واقفة، ويدخل في حُكمِ الدّابة السيارة، والسفينة، والطائرة، وأي شيء يركبُه الإنسان، بشرطِ ضيق المكان وعدم القدرة على الصلاةِ فيه مُستقبلاً القِبلة.

Terjemah :

Jumhur ulama telah bersepakat tentang sah shalat wajib dalam kendaraan. Yaitu apabila memungkinkan seseorang shalat menghadap kiblat, tetap dalam suatu tempat, mengerjakan rukun & syaratnya. Dan Imam Syafi’I membatasi kebolehan ini berlaku hanya untuk kendaraan posisi berdiri. Yang demikian masuk dalam kategori perjalanan dengan mobil, kapal, pesawat dan yang dikendarai manusia, dengan syarat tempatnya sempit dan tidak bisa untuk shalat menghadap kiblat.

 

2.      Tata Cara Shalat Dalam Kendaraan

 كيفيّةُ الصلاة في السيارة

 ذهبَ الحنفيّة إلى أنَّ الصلاة في السيارةِ تكون للمُضطر، فإن دخلَ وقتُ الصلاة؛ فيُحاول الصلاة قياماً ورُكوعاً وسُجوداً، فإن لم يستطع فيُصلّي جالساً بالإيماءِ، وذلك بعد اجتهادِه في جهةِ القبلةِ، وأمّا إن كانت سيّارته؛ فيوقفها وينزلُ للصلاةِ، وإن لم تكن له ولا سلطة له لإيقافها، فيُصلّي إيماءً، مُتحرّياً للقبلةِ إن أمكنه ذلك، والأفضل الإعادة.

Landasan Hukum :

Ø   روي عن عامر بن ربيعة عن أبيه قال: (كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم في سفره، في ليلة مظلمة فلم ندر أين القبلة، فصلى كل رجل منا على حياله، فلما أصبحنا ذكرنا ذلك للنبي صلى الله عليه وسلم فنزلت: فأينما تولوا فثم وجه الله) الترمذي: ج 1 / كتاب تفسير القرآن باب 3/2957.

Ø   روي عن سالم بن عبد الله عن ابن عمر رضي الله عنهما: (أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يُسبِّح على ظهر راحلته حيث كان وجهه، يومئ برأسه، وكان ابن عمر يفعله) البخاري: ج 1 / كتاب تقصير الصلاة باب 12/1054.

Terjemah :

Mazhab Hanafi berpendapat bahwa shalat dalam kendaraan berlaku bagi yang terpaksa, jika sudah masuk waktu shalat, maka hendaknya shalat berdiri, ruku’ dan sujud. Jika tidak mampu maka shalat duduk dengan isyarat mata. Tapi yang demikian itu setelah berusaha menghadap kiblat. Adapun jika kendaraannya milik pribadi, hendaknya berhenti, turun untuk shalat. Tapi jika bukan milik pribadi dan dia tidak punya kuasa untuk memberhentikannya, maka shalat dengan isyarat mata, dan tidak mengapa tidak menghadap kiblat. Dan yang lebih utama adalah mengulang kembali shalatnya.

 

 وذهب المالكيّة إلى أنَّ صلاةَ الفرض تُصلّى على الدّابةِ بالإيماءِ في عدّةِ مواضع، وهي: عند القِتال والتحامِ الصفوفِ، وعدم القدرة على النزولِ عن الدّابةِ، أو الخوفِ من سَبع أو لص، ويُندبُ له الإعادة بعد زوال الخوف، وكذلك الراكب غير القادر على النُزولِ إذا خشيَ فوات الوقت الاختياري، أو المريض الراكب الذي لا يستطيع النُزول، فيُصلّي على دابّتِه مُستقبلاً القبلة، ويُؤمئ حالَ الرُكوعِ والسُجود،

Landasan Hukum :

Ø   عن ابن عمر رضي اللَّه عنهما قال في حديث له: "إن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم كان يوتر على البعير"

Terjemah :

Mazhab Maliki berpendapat bahwa shalat wajib dalam kendaraan itu dengan isyarat mata, dan berlaku pada beberapa kondisi, seperti : ketika peperangan, ketika tidak bisa turun dari kendaraan, atau takut terhadap perompak dan binatang buas. dan yang demikian itu disunnahkan untuk mengulang  shalat setelah hilang rasa takut. Dan yang demikian itu bagi pengendara yang tidak mampu turun dan takut terlewat waktu shalat, atau bagi pengendara yang sakit yang tidak mampu turun, maka dia boleh shalat dalam kendaraan menghadap kiblat dengan isyarat mata untuk ruku’ dan sujudnya.

 

 وقد ذهبَ الشافعيّة والحنابلة إلى وجوبِ استقبال القبلة للراكبِ في السيارةِ في الصلاةِ المفروضة، وأمَّا صلاة النافلة فهي جائزة في السيّارةِ الماشية ولو إلى غير جهة القبلة، فتكون قبلته جهة سفره، وتسقط عنه أركان الصلاة العاجز عن فعلِها، ولا يُعيدُ صلاتَه بعد ذلك. والصلاة بالإيماء هي: الصلاة بالإشارةِ إلى الركوع والسجودِ بالانحناءِ، أو بتحريكِ العينين إن لم يستطع الانحناء.

 

 

 

Landasan Hukum :

Ø   روى عبد الله بن عمر رضي الله عنهما نه قال: (كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يسبِّح على الراحلة قِبَل أي وجه توجَّه. ويوتر عليها. غيرأنه لا يصلي عليها المكتوبة) مسلم: ج-1/ كتاب صلاة المسافرين باب 4/39.

Terjemah :

Mazhab Syafi’I dan Hanbali berpendapat bahwa wajib meghadap kiblat bagi pengendara yang shalat dalam kendaraan, adapun untuk shalat sunnah boleh tidak menghadap kiblat (menghadap sesuai arah perjalanannya), dan gugur rukun shalat bagi yang lemah mengerjakannya, dan tidak harus mengulang shalatnya lagi.

 

Catatan :

Shalat dengan iima’ adalah shalat dengan isyarat membungkukkan punggung saat ruku’ dan sujud atau dengan gerakan mata jika tidak mampu membungkukkan punggung.

 

3.      Hukum Shalat Sunnah Dalam Kendaraan

 حكمُ صلاة النافلة في السيارةِ

أجمعَ العُلماءُ على جوازِ صلاة النافلة للمسافرِ في السيارةِ ونحوها، ولا يلزمهُ استقبالُ القبلة.

Landasan Hukum :

Ø   فعن عامر بن ربيعة -رضي الله عنه- قال: (رَأَيْتُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وهو علَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ، يُومِئُ برَأْسِهِ قِبَلَ أيِّ وجْهٍ تَوَجَّهَ، ولَمْ يَكُنْ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَصْنَعُ ذلكَ في الصَّلَاةِ المَكْتُوبَةِ)، والأفضل أن يستقبلَ المُصلّي القبلة في بدايةِ الصلاة، ثُمّ يتّجه حيثُ شاء، سواء كانَ في جهةِ القبلة أو في غيرها.

 

Terjemah :

Jumhur ulama berpendapat boleh shalat sunnah bagi musafir dalam kendaraan, dan tidak harus menghadap kiblat.

 

 

B.          Pendapat Penulia

            Untuk shalat wajib Menurut pemakalah setelah mengetahui penjelasan diatas adalah mengikuti pendapat yang paling kuat yaitu ayat qur’an, karena udzur atau alasan yang diterima itu bila dalam keadaan bahaya. Kalaupun boleh tapi harus bisa dipastikan tetap menghadap kiblat. Untuk kondisi zaman sekarang di Jakarta tidak mungkin. Berbeda dengan proses perjalanan zaman dahulu yang tidak banyak belok-belok karena hamparan gurun pasir atau hutan.

            Untuk shalat sunnah Menurut pemakalah setelah mengetahui penjelasan diatas adalah mengikuti pendapat yang cenderung dengan kita masing-masing. Saya sangat salut jika ada yang mengusahakan shalat sunnah, yang biasanya orang pada umumnya lebih memanfaatkan waktu untuk beristirahat atau bercengkrama ketika dalam kendaraan. Kalau memang pakaiannya memenuhi syarat menutup aurat, dikendaraan pribadi, sangat aman, silahkan shalat sunnah. Namun jika di kendaraan umum, seandainya kita siap dipandang berbeda, aneh atau bahkan ditanya dengan orang lain, ya silahkan, barangkali itu bisa jadi media syi’ar Islam.

 

 

 

REFERENSI

https://mawdoo3.com

Komentar

Postingan Populer