Febriawan Jauhari | Kuliah Whatsapp
Masing2 kita memiliki jawabannya, dan insya Allah jawaban teman2 baik semuanya baik.
Tapi izinkan saya memberikan analogi,
jika kita memberikan seorang sahabat sebuah pancing, tapi ia hanya taruh di gudang, tak pernah ia pakai sama sekali?
Kira2 gimana perasaan teman2?
Atau jika ia menggunakannya untuk menjahili seseorang, membuat prank,
Bagaimana perasaan teman2?
Sungguh bagi Allah permisalan yang lebih tinggi dan mulia.
Allah telah berikan teman2 pancing, Allah lebihkan teman2 dalam suatu bidang. Baik berupa hobi maupun jurusan perkuliahan.
Sebagian kita ada yang dilebihkan dalam kemampuan menulis. Maka berkaryalah dalam menulis.
Sebagian kita ada yang dilebihkan dengan jurusan medis, maka berkaryalah dalam dunia medis.
Sebagian kita ada yang dilebihkan dengan jiwa sosial yang lebih tinggi dari yang lain, maka berkaryalah dalam bidang sosial.
Kita berkarya bukan karena kita ingin dikenal orang2, bukan untuk ditukar dengan harta dunia yang tidak seberapa, tapi kita berkarya karena panggilan hati, berbisik dalam doa, "Duhai Rabb, telah Engkau lebihkan aku dalam bidang ini, izinkanku mensyukuri kelebihan-Mu ini."
Maka bagi seorang mukmin berkarya adalah bentuk ekspresi syukurnya kepada sang pencipta.
Sehingga karya kita menjadi berkah
Pertanyaan selanjutnya
*Apa yang akan kita karyakan?*
Bayangkan jika apa yang kita cenderungi justru itulah yang memasukkan kita ke surga. Maka berkaryalah pada bidang yang kita sukai. Kemudian, niatkan untuk Allah.
Darimana kita tahu bahwa karya kita untuk Allah? Jika sejalan dengan nilai-nilai universal yang dibawa oleh agama kita.
Semisal, membawa manfaat bagi orang lain, baik duniawi maupun ukhrowi. Dalam artian, memudahkan pekerjaan manusia atau memudahkannya menemukan petunjuk ilahi.
Berbicara tentang berkarya tidak lepas dengan produktivitas.
Dalam islam, peoduktivitas bukan hanya menghasilkan sesuatu atau barang tertentu, tapi lebih dari itu menghasilan ganjaran, dalam hal ini berupa keberkahan.
Maka sibuk bukan tanda sukses. Tapi sibuk dan berkah, itulah kesuksesan sejati.
Maka berkarya bukan tanda sukses. Tapi berkarya dan berkah, itulah kesuksesan sejati.
Jadi kita berkarya untuk mencari berkah. Berkah yang akan menenangkan hidup kita.
Allah telah menitipkan ketenangan pada banyak hal, ada di sholat, ada di majlis-majlis ilmu, ada di sedekah, ada juga dalam berkarya yang diniatkan untuknya.
Terkadang saya sering heran dengan mahasiswa yang kuliah di jurusan umum, non-agama, ia bingung bagaimana cara menyambungkan ilmunya dengan agama. Ia merasa bahwa duduknya ia mendengarkan dosen di kampus tidak berpahala.
Maka kepada teman2 yang seperti ini saya sering mengajak diskusi.
Pertama, memang benar tujuan kita diciptakan di bumi adalah untuk beribadah, hanya saja ibadah yang dimaksudkan Allah bukanlah dalam artian sempit. Tapi setiap perbuatan dan perkataan yang membuat Allah sukai.
Ulama kita menjelaskan ibadah itu mencakup segala sisi kehidupan. Termasuk imarotul ard. Menjaga bumi. Bukankah kuliah di pertambangan itu tentang menjaga bumi? Bagaimana cara memanfaatkan alam tanpa merusaknya. Bukankah butuh spesialisasi? Maka kuliah disana masuk ke imarotul ard. Menjaga bumi.
Jadi, ibadah itu cakupannya sangat luas. Tidak pernah hanya tentang shalat saja.
Karena jika ibadah hanya diartikan shalat, sedekah saja, maka nabi tidak akan menanam kurma, tidak akan pergi menggali parit, tidak akan lomba lari dengan istrinya. Nyatanya nabi melakukan itu semua. Tapi semua dalam bingkai ibadah.
Kedua, selalu kejar tujuanmu dengan pertanyaan2 berikutnya.
Semisal, *untuk apa aku kuliah?*
Untuk bekerja.
*Untuk apa aku bekerja?*
Untuk mendapatkan uang.
*Untuk apa mendapatkan uang?*
Untuk memberi makan anak dan istri.
*Untuk apa makan anak dan istri?*
Agar mereka bisa tenang ibadah.
Jadi, selalu kejar tujuan2 kita, sampai kita menemukan Allah pada ujungnya.
Dengan begitu, hati kita bisa lebih merasa tenang dan bersemangat saat melakukan yang kita kerjakan sekarang.
Untuk menutup diskusi kita izinkan saya melemparkan sebuah gagasan kepada teman2
*Jika kita bisa mendapatkan pahala dengan menekuni bidang yang kita suka, kenapa berusaha berpaling dan mencari yang lain?*
List pertanyaan
1Andri Wibowo/JAG Karanganyar/Sukoharjo
BismillahirrahmanirrahimAssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Bagaimana kiat-kiat atau strategi yang harus dilakukan atau dirancang agar kita dapat melejitkan potensi diri yang telah Allah berikan kepada kita, agar bisa bermanfaat untuk orang lain dan mendapatkan keberkahan dari Allah?
2.Akbar Nor Alam_SMA N 1 Jepara_Jepara
Bismillahirrahmanrrahim
Asslamualaikum warahmatullahiwabarakatuh..
1.bisa kasih penjelasan mengenai imarotul ard?
kan saya masih anak remaja,kadang patah hati,kemudian untuk melupakannya melalui puisi,jadi puisi saya kan pasti puisi tentang cinta katakanlah,kemudian puisi saya,saya ikutin di lomba lomba,jadi apakah puisi saya tersebut sejalan dengan nilai nilai uniersal yang dibawa oleh agama islam?
1. Cara paling mudah untuk melejitkan potensi diri adalah bergaul dengan singa.
Sedomba2nya domba jika bergaul dengan singa, maka walaupun ia tidak bisa menjadi singa, minimal ia bersikap dan berwatak seperti singa.
Tapi sesinga2nya singa jika bergaul dengan domba, maka akan berwatak domba.
Eh, tapi keburu dimakan kali yak? 😁
Intinya, jika kamu belum bisa membentuk ekosistemmu sendiri, carilah ekosistem yang akan membentukmu.
2. Ulama2 kita membagi ibadah menjadi mahdoh dan goir mahdoh.
Mahdoh artinya tata caranya dijelaskan, semisal shalat, sedekah, puasa dll.
Nah, ibadah ini syaratnya ada tiga;
1. Ikhlas
2. Ibadahnya memang diperintahkan
3. Harus mengikuti tata cara yang ditentukan
Kedua, ibada goir mahdoh, nah ibadah ini tata caranya tidak dijelaskan. Seperti buat sekolah dll.
Syaratnya ada dua:
1. Amal soleh atau sesuatu yang baik
2. Harus ikhlas
Nah, kira2 membuat puisi cinta masuk tidak?
*pertanyaan akhwat*
*1. Putri arhadina_lombok*
Terimakasih waktunya ust. Saya dulunya kuliah kebidanan. Tapi memang saya kuliah awalnya cita citanya itu. Tapi setelah lama kuliah saya merasa itu bukan kesukaan saya. Tapi karena takut mengecewakan ibu saya saya selesaikan. Setelah itu saya belajar agama. Cari pondok tahfidz. Yang menurut saya, saya emang sukanya di sana. Setelah setahun mondok. Saya pulang. Tapi pas pulang. Saya tetap disuruh kerja di kebidanan. Sedangkan menurut saya saya blum siap dan suka di bidang itu. Gimana menurut ust? Saya takut kalo saya kerja jadi bidan , posisinya saya terpaksa.
*2. Lutfiah Nurul Azizah_SMK Muh Watukelir_Solo*
Bismillah..ust mau tanya, disaat kita berusaha untuk berkarya, berusaha, nah disitu pasti Allah akan ngasih cobaan ke kita, nah yg saya tanyakan gmn sih cara ngadepi hujatan"orang lain, apalagi saya pernah direndahin temen sendiri, nah apalagi saya seorang introvert, dan sampai sekarang saya masih inget kata" yg menyakitkan. Nah gmn cara ngadepi hujatan" cemooh orang ? Bukannya kita harus mencari kebahagiaan di pekerjaan
1. Allah telah melebihkan mbak dengan dua hal, yang belum tentu dimiliki oleh kebanyakan orang.
Ilmu dalam alquran dan ilmu dalam kebidanan.
Jika bisa dipadukan keduanya, kenapa tidak?
Sungguh selain mentadabburi ayat2 qur'aniyah kita juga diperintahkan mentadabburi ayat2 kauniyah.
Jika dua jalan2 sama2 membawa kita kepada Allah, kenapa mencukupkan diri dengan yang satu?
Terlebih di jalan satunya lagi ada ridho ibu yang menyertai.
Tapi jika memang sudah tidak bisa dipadukan, istikharohlah, sungguh Allah sangat paham resah dan gelisah kita.
2. Cara terbaik untuk melawan sikap pesimis orang sekitar adalah dengan meredefinisi ulang arti pesimis mereka.
Bahwasanya, pesimistis mereka adalah bentuk petimbangan2 dari rencana kita. Maka alih2 menutup telinga, kita membuka lebar2, kita saring pertimbangan mereka, mendengarkan yang hanya masuk akal.
Sampai kita mati besok lusa, akan ada yang selalu mengkritik kita, belajarlah untuk menghadapinya. Jangan lari.
Jika kita lari hari ini, maka seumur hidup kita akan berusaha lari.
*pertanyaan akhwat*
1. Bismillah
Assalamu'alaikum. Indriani_Universitas 19 November Kolaka_Kolaka,Sulawesi Tenggara😊
Assalamu alaikum ustad, ana mau bertanya perihal ke istiqomahan dalam melaksanakan ibadah, bagaimanah sih tips tipsnya agar kita tetap istiqomah walaupun rasa malas datang menghampiri kita,dan bagaimana cara melawan rasa malas itu? Terima kasih ustad .
2. Fadiah Hapsari Idwanto_STEI SEBI_Jakarta
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatu, sebelumnya terima kasih ustadz atas ilmu yang sudsh diberikan kepada kami. Pertanyaan saya "apa yang memotivasi ustadz pertama kali hingga akhirnya ustadz memutuskan untuk berkarya dalam hal tulisan? Dan terakhir saya ingin meminta tanggapan ustadz kenapa seseorang sukses berawal dari hobby nya?"
Jazakallah ustadz, semoga ustadz selalu dalam lindungan Allah Swt. Aamiin🙏
1. Saya pribadi berbisik pada diri sendiri, "gapapa sedikit, itu jauh lebih baik daripada tidak mengerjakannya sama sekali."
Ini kalau malasnya ringan.
Tapi kalau sudah berat banget, coba charging iman dengan datang ke kajian. Samperin langsung ustazahnya, minta nasehat.
2. Mungkin karena kepribadian saya yang suka mikir kali yak.
Jadi butuh media untuk menuangkan rasa dan ide. Dan media terbaik adalah menulis.
Untuk bisa sukses dengan hobi kita hal yang paling penting yang kita lakukan adalah siap2 berkorban, baik waktu, tenaga dan finansial.
Jika sebab2 kauniyah sudah ditempuh, kemudian sebab2 ilahiyah sudah diminta, maka insya Allah kita akan sampai ada tujuan.
Sebab2 kauniyah itu hukum2 yang Allah tetapkan di alam, bahwa dia yang rajin akan menguasai yang dirajininya.
Sebab2 ilahiyah adalah izin Allah itu sendiri, bahwa dia yang mendekatkan diri kepada Allah maka Allah akan sampaikan.
Bayangkan jika kedua hal ini berhasil kita kumpulkan.
Orang tekun yang rajin ibadah, sungguh Allah akan tundukkan dunia untuknya.
Pada akhirnya tidak ada jawaban yang akan memuaskan hati
Karena pertanyaan2 kita bukanlalah matematika
Tapi pertanyaan2 hati, maka mintalah jawabanmu kepada Sang Penguasa Hati
Mudahan dengan itu Allah tenangkan hati kita
Posted by Atikah Mahdiah
Tapi izinkan saya memberikan analogi,
jika kita memberikan seorang sahabat sebuah pancing, tapi ia hanya taruh di gudang, tak pernah ia pakai sama sekali?
Kira2 gimana perasaan teman2?
Atau jika ia menggunakannya untuk menjahili seseorang, membuat prank,
Bagaimana perasaan teman2?
Sungguh bagi Allah permisalan yang lebih tinggi dan mulia.
Allah telah berikan teman2 pancing, Allah lebihkan teman2 dalam suatu bidang. Baik berupa hobi maupun jurusan perkuliahan.
Sebagian kita ada yang dilebihkan dalam kemampuan menulis. Maka berkaryalah dalam menulis.
Sebagian kita ada yang dilebihkan dengan jurusan medis, maka berkaryalah dalam dunia medis.
Sebagian kita ada yang dilebihkan dengan jiwa sosial yang lebih tinggi dari yang lain, maka berkaryalah dalam bidang sosial.
Kita berkarya bukan karena kita ingin dikenal orang2, bukan untuk ditukar dengan harta dunia yang tidak seberapa, tapi kita berkarya karena panggilan hati, berbisik dalam doa, "Duhai Rabb, telah Engkau lebihkan aku dalam bidang ini, izinkanku mensyukuri kelebihan-Mu ini."
Maka bagi seorang mukmin berkarya adalah bentuk ekspresi syukurnya kepada sang pencipta.
Sehingga karya kita menjadi berkah
Pertanyaan selanjutnya
*Apa yang akan kita karyakan?*
Bayangkan jika apa yang kita cenderungi justru itulah yang memasukkan kita ke surga. Maka berkaryalah pada bidang yang kita sukai. Kemudian, niatkan untuk Allah.
Darimana kita tahu bahwa karya kita untuk Allah? Jika sejalan dengan nilai-nilai universal yang dibawa oleh agama kita.
Semisal, membawa manfaat bagi orang lain, baik duniawi maupun ukhrowi. Dalam artian, memudahkan pekerjaan manusia atau memudahkannya menemukan petunjuk ilahi.
Berbicara tentang berkarya tidak lepas dengan produktivitas.
Dalam islam, peoduktivitas bukan hanya menghasilkan sesuatu atau barang tertentu, tapi lebih dari itu menghasilan ganjaran, dalam hal ini berupa keberkahan.
Maka sibuk bukan tanda sukses. Tapi sibuk dan berkah, itulah kesuksesan sejati.
Maka berkarya bukan tanda sukses. Tapi berkarya dan berkah, itulah kesuksesan sejati.
Jadi kita berkarya untuk mencari berkah. Berkah yang akan menenangkan hidup kita.
Allah telah menitipkan ketenangan pada banyak hal, ada di sholat, ada di majlis-majlis ilmu, ada di sedekah, ada juga dalam berkarya yang diniatkan untuknya.
Terkadang saya sering heran dengan mahasiswa yang kuliah di jurusan umum, non-agama, ia bingung bagaimana cara menyambungkan ilmunya dengan agama. Ia merasa bahwa duduknya ia mendengarkan dosen di kampus tidak berpahala.
Maka kepada teman2 yang seperti ini saya sering mengajak diskusi.
Pertama, memang benar tujuan kita diciptakan di bumi adalah untuk beribadah, hanya saja ibadah yang dimaksudkan Allah bukanlah dalam artian sempit. Tapi setiap perbuatan dan perkataan yang membuat Allah sukai.
Ulama kita menjelaskan ibadah itu mencakup segala sisi kehidupan. Termasuk imarotul ard. Menjaga bumi. Bukankah kuliah di pertambangan itu tentang menjaga bumi? Bagaimana cara memanfaatkan alam tanpa merusaknya. Bukankah butuh spesialisasi? Maka kuliah disana masuk ke imarotul ard. Menjaga bumi.
Jadi, ibadah itu cakupannya sangat luas. Tidak pernah hanya tentang shalat saja.
Karena jika ibadah hanya diartikan shalat, sedekah saja, maka nabi tidak akan menanam kurma, tidak akan pergi menggali parit, tidak akan lomba lari dengan istrinya. Nyatanya nabi melakukan itu semua. Tapi semua dalam bingkai ibadah.
Kedua, selalu kejar tujuanmu dengan pertanyaan2 berikutnya.
Semisal, *untuk apa aku kuliah?*
Untuk bekerja.
*Untuk apa aku bekerja?*
Untuk mendapatkan uang.
*Untuk apa mendapatkan uang?*
Untuk memberi makan anak dan istri.
*Untuk apa makan anak dan istri?*
Agar mereka bisa tenang ibadah.
Jadi, selalu kejar tujuan2 kita, sampai kita menemukan Allah pada ujungnya.
Dengan begitu, hati kita bisa lebih merasa tenang dan bersemangat saat melakukan yang kita kerjakan sekarang.
Untuk menutup diskusi kita izinkan saya melemparkan sebuah gagasan kepada teman2
*Jika kita bisa mendapatkan pahala dengan menekuni bidang yang kita suka, kenapa berusaha berpaling dan mencari yang lain?*
List pertanyaan
1Andri Wibowo/JAG Karanganyar/Sukoharjo
BismillahirrahmanirrahimAssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Bagaimana kiat-kiat atau strategi yang harus dilakukan atau dirancang agar kita dapat melejitkan potensi diri yang telah Allah berikan kepada kita, agar bisa bermanfaat untuk orang lain dan mendapatkan keberkahan dari Allah?
2.Akbar Nor Alam_SMA N 1 Jepara_Jepara
Bismillahirrahmanrrahim
Asslamualaikum warahmatullahiwabarakatuh..
1.bisa kasih penjelasan mengenai imarotul ard?
kan saya masih anak remaja,kadang patah hati,kemudian untuk melupakannya melalui puisi,jadi puisi saya kan pasti puisi tentang cinta katakanlah,kemudian puisi saya,saya ikutin di lomba lomba,jadi apakah puisi saya tersebut sejalan dengan nilai nilai uniersal yang dibawa oleh agama islam?
1. Cara paling mudah untuk melejitkan potensi diri adalah bergaul dengan singa.
Sedomba2nya domba jika bergaul dengan singa, maka walaupun ia tidak bisa menjadi singa, minimal ia bersikap dan berwatak seperti singa.
Tapi sesinga2nya singa jika bergaul dengan domba, maka akan berwatak domba.
Eh, tapi keburu dimakan kali yak? 😁
Intinya, jika kamu belum bisa membentuk ekosistemmu sendiri, carilah ekosistem yang akan membentukmu.
2. Ulama2 kita membagi ibadah menjadi mahdoh dan goir mahdoh.
Mahdoh artinya tata caranya dijelaskan, semisal shalat, sedekah, puasa dll.
Nah, ibadah ini syaratnya ada tiga;
1. Ikhlas
2. Ibadahnya memang diperintahkan
3. Harus mengikuti tata cara yang ditentukan
Kedua, ibada goir mahdoh, nah ibadah ini tata caranya tidak dijelaskan. Seperti buat sekolah dll.
Syaratnya ada dua:
1. Amal soleh atau sesuatu yang baik
2. Harus ikhlas
Nah, kira2 membuat puisi cinta masuk tidak?
*pertanyaan akhwat*
*1. Putri arhadina_lombok*
Terimakasih waktunya ust. Saya dulunya kuliah kebidanan. Tapi memang saya kuliah awalnya cita citanya itu. Tapi setelah lama kuliah saya merasa itu bukan kesukaan saya. Tapi karena takut mengecewakan ibu saya saya selesaikan. Setelah itu saya belajar agama. Cari pondok tahfidz. Yang menurut saya, saya emang sukanya di sana. Setelah setahun mondok. Saya pulang. Tapi pas pulang. Saya tetap disuruh kerja di kebidanan. Sedangkan menurut saya saya blum siap dan suka di bidang itu. Gimana menurut ust? Saya takut kalo saya kerja jadi bidan , posisinya saya terpaksa.
*2. Lutfiah Nurul Azizah_SMK Muh Watukelir_Solo*
Bismillah..ust mau tanya, disaat kita berusaha untuk berkarya, berusaha, nah disitu pasti Allah akan ngasih cobaan ke kita, nah yg saya tanyakan gmn sih cara ngadepi hujatan"orang lain, apalagi saya pernah direndahin temen sendiri, nah apalagi saya seorang introvert, dan sampai sekarang saya masih inget kata" yg menyakitkan. Nah gmn cara ngadepi hujatan" cemooh orang ? Bukannya kita harus mencari kebahagiaan di pekerjaan
1. Allah telah melebihkan mbak dengan dua hal, yang belum tentu dimiliki oleh kebanyakan orang.
Ilmu dalam alquran dan ilmu dalam kebidanan.
Jika bisa dipadukan keduanya, kenapa tidak?
Sungguh selain mentadabburi ayat2 qur'aniyah kita juga diperintahkan mentadabburi ayat2 kauniyah.
Jika dua jalan2 sama2 membawa kita kepada Allah, kenapa mencukupkan diri dengan yang satu?
Terlebih di jalan satunya lagi ada ridho ibu yang menyertai.
Tapi jika memang sudah tidak bisa dipadukan, istikharohlah, sungguh Allah sangat paham resah dan gelisah kita.
2. Cara terbaik untuk melawan sikap pesimis orang sekitar adalah dengan meredefinisi ulang arti pesimis mereka.
Bahwasanya, pesimistis mereka adalah bentuk petimbangan2 dari rencana kita. Maka alih2 menutup telinga, kita membuka lebar2, kita saring pertimbangan mereka, mendengarkan yang hanya masuk akal.
Sampai kita mati besok lusa, akan ada yang selalu mengkritik kita, belajarlah untuk menghadapinya. Jangan lari.
Jika kita lari hari ini, maka seumur hidup kita akan berusaha lari.
*pertanyaan akhwat*
1. Bismillah
Assalamu'alaikum. Indriani_Universitas 19 November Kolaka_Kolaka,Sulawesi Tenggara😊
Assalamu alaikum ustad, ana mau bertanya perihal ke istiqomahan dalam melaksanakan ibadah, bagaimanah sih tips tipsnya agar kita tetap istiqomah walaupun rasa malas datang menghampiri kita,dan bagaimana cara melawan rasa malas itu? Terima kasih ustad .
2. Fadiah Hapsari Idwanto_STEI SEBI_Jakarta
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatu, sebelumnya terima kasih ustadz atas ilmu yang sudsh diberikan kepada kami. Pertanyaan saya "apa yang memotivasi ustadz pertama kali hingga akhirnya ustadz memutuskan untuk berkarya dalam hal tulisan? Dan terakhir saya ingin meminta tanggapan ustadz kenapa seseorang sukses berawal dari hobby nya?"
Jazakallah ustadz, semoga ustadz selalu dalam lindungan Allah Swt. Aamiin🙏
1. Saya pribadi berbisik pada diri sendiri, "gapapa sedikit, itu jauh lebih baik daripada tidak mengerjakannya sama sekali."
Ini kalau malasnya ringan.
Tapi kalau sudah berat banget, coba charging iman dengan datang ke kajian. Samperin langsung ustazahnya, minta nasehat.
2. Mungkin karena kepribadian saya yang suka mikir kali yak.
Jadi butuh media untuk menuangkan rasa dan ide. Dan media terbaik adalah menulis.
Untuk bisa sukses dengan hobi kita hal yang paling penting yang kita lakukan adalah siap2 berkorban, baik waktu, tenaga dan finansial.
Jika sebab2 kauniyah sudah ditempuh, kemudian sebab2 ilahiyah sudah diminta, maka insya Allah kita akan sampai ada tujuan.
Sebab2 kauniyah itu hukum2 yang Allah tetapkan di alam, bahwa dia yang rajin akan menguasai yang dirajininya.
Sebab2 ilahiyah adalah izin Allah itu sendiri, bahwa dia yang mendekatkan diri kepada Allah maka Allah akan sampaikan.
Bayangkan jika kedua hal ini berhasil kita kumpulkan.
Orang tekun yang rajin ibadah, sungguh Allah akan tundukkan dunia untuknya.
Pada akhirnya tidak ada jawaban yang akan memuaskan hati
Karena pertanyaan2 kita bukanlalah matematika
Tapi pertanyaan2 hati, maka mintalah jawabanmu kepada Sang Penguasa Hati
Mudahan dengan itu Allah tenangkan hati kita
Posted by Atikah Mahdiah



Komentar
Posting Komentar