Wanita sebagai jembatan
Masih terngiang kutipan dari Pak Anies Baswedan di buku Ketika Anies Baswedan memimpin, karya almunus UIN. Buku yang aku dapatin cuma-cuma, ketika launching di Aula Gramedia, Matraman. Acarany gratis, dan aku ngga nyangka ternyata setiap peserta juga dapet 1 fee buku. Aahh Alhamdulillah senangnyaa..
....................................................................
Bahwa Ia sangat bahagia dan bersyukur mendapat jodoh seorang wanita yang mampu menjadi jembatan bagi nya dengan anak-anaknya dan jembatan antara anak-anaknya.
Point penting yang saya dapatkan adalah bahwa selayaknya seorang isteri harus belajar menjadi jembatan bagi 2 pihak, antara anak dengan ayah nya , anak yang satu dengan yang lainnya, hal ini menjadi ultimatum bahwa inilah peran wanita yang sesungguhnya.
Eh elu belum nikah udah bahas ginian, sok tahu lu ! , Oke sekarang kita ambil sample lain.
Dalam sebuah rumah atau asrama yang berisi beberapa orang yang dimana kita Punya status sebagi pengurus , yang punya wewenang, menyatukan dan mempersaudarakan anggota adalah tugasnya. Anggota yang dengan latar belakang , pendidikan dan daerah yang berbeda dan karakter yang beraneka , menjadi salah satu pemicu perselisihan, permusuhan yang bisa menggangu ke harmonisan dalam asrama tersebut .
Maka hendaknya kita mampu mempersaudarakan mereka , minimal agar mereka dekat dan terbuka satu sama lain, saling peduli dengan kondisi temannya.
Contoh lain adalah , dalam kelas.
Bagi kita yang mengajar, maka kelas adalah yang harus kita jaga keharmonisan nya.
Menyatukan puluhan murid , membuat mereka saling peduli, saling menyayangi adalah tugasnya.
Mengantisipasi terjadinya ribut, berantem dan persaingan tidak sehat.
Memang ini membutuhkan waktu lebih dari jam mengajar yang tersedia, oleh karenanya pengajar hendaknya menyapa juga di luar kelas, tahu kondisi mereka , tau permasalahan mereka dan apa yang mereka inginkan.
Lagi-lagi yang saya contohkan adalah hal berat bagi yang belum terbiasa atau memiliki karakter cuek dsb.
Ini memang agak berat , karena banyak yang gamau ambil pusing, capek dan ambil resiko . Sabar menjadi tantangan dalam hal ini. Dan ini sulit , karena ini adalah hal yang mulia yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang bersungguh-sungguh.
Karena ini adalah salah satu wadah pembelajaran buat kita para wanita.
Saya sendiri sebagai penulis juga masih sangat susah untuk itu, tapi saya rasa ini adalah hal penting yang harus kita latih. Karena kalau bukan dari sekarang, kapan lagi?
Saya juga terus berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan , bimbingan dan rahmat Nya. Semoga Allah memberikan taufik hidayah nya untuk kita semua.
ada part prinsip hidup beliau yang cukup inspiring.




Komentar
Posting Komentar